SIO crane kelas A, kelas B, dan kelas C adalah sebutan yang beredar di lapangan dan di kolom pencarian, tetapi bukan istilah dalam peraturan yang berlaku. Permenaker No. 8 Tahun 2020 membagi operator crane ke dalam Kelas I, II, dan III. Huruf A, B, C umumnya dipakai orang sebagai padanan tidak resmi: A untuk kelas tertinggi dan C untuk kelas terendah. Karena tidak baku, selalu pastikan dengan angka tonase.

Apakah SIO crane kelas A, B, C benar-benar ada?

Dalam Permenaker No. 8 Tahun 2020 tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, kelas operator keran angkat ditulis dengan angka Romawi. Untuk overhead crane dan mobile crane pembagiannya menurut kapasitas:

Kelas pada peraturan Kapasitas unit
Kelas III Sampai 25 ton
Kelas II Di atas 25 sampai 100 ton
Kelas I Di atas 100 ton

Tower crane dibagi menurut ketinggian menara, bukan tonase. Rinciannya ada di artikel tower crane dan kelas operator.

Kami tidak menemukan huruf A, B, C sebagai kelas operator crane dalam peraturan tersebut. Lisensi yang diterbitkan Kemnaker RI pun mencantumkan Kelas I, II, atau III. Jadi bila Anda mencari SIO crane kelas A, kelas B, atau kelas C, yang Anda butuhkan hampir pasti salah satu dari tiga kelas resmi itu.

Dari mana istilah kelas A, B, C berasal?

Ada beberapa kemungkinan asal, dan tidak satu pun dapat kami pastikan sebagai sumber tunggal:

  • Kebiasaan menyamakan urutan. Banyak orang terbiasa dengan penggolongan berhuruf, misalnya golongan SIM. Kelas tertinggi lalu disebut A, kelas menengah B, dan kelas terendah C.
  • Penamaan internal perusahaan. Sebagian perusahaan, terutama di tambang dan konstruksi, mengelompokkan operator dalam grade A, B, C untuk keperluan penggajian atau izin operasi internal. Grade ini tidak sama dengan kelas lisensi.
  • Tulisan yang beredar di internet. Ada situs yang menulis pembagian kelas A, B, C dengan batas tonase tertentu. Angka-angka itu tidak cocok dengan Permenaker No. 8 Tahun 2020, sehingga sebaiknya tidak dijadikan pegangan.
  • Istilah dari jalur sertifikasi lain. Sektor migas dan skema kompetensi tertentu memiliki penjenjangan sendiri yang kadang disebut dengan huruf atau level.

Kesimpulannya, huruf A, B, C adalah bahasa percakapan. Dokumen resmi tidak memakainya.

Kalau begitu, kelas A, B, C berapa ton?

Bila seseorang menyebut kelas berhuruf, penafsiran yang paling sering dimaksud adalah sebagai berikut. Perlakukan tabel ini sebagai tebakan yang masuk akal, bukan ketentuan.

Sebutan lapangan Yang biasanya dimaksud Kapasitas menurut peraturan
Kelas A Kelas I Di atas 100 ton
Kelas B Kelas II Di atas 25 sampai 100 ton
Kelas C Kelas III Sampai 25 ton

Karena hanya kebiasaan, selalu ada kemungkinan lawan bicara Anda memakai urutan sebaliknya atau batas tonase yang berbeda. Cara yang aman adalah berhenti memakai huruf dan langsung bertanya: unitnya crane jenis apa dan kapasitasnya berapa ton?

Contoh: lowongan menulis dibutuhkan operator dengan SIO mobile crane kelas C untuk unit 25 ton. Dengan kapasitas 25 ton, lisensi yang sesuai adalah operator mobile crane Kelas III. Bila unitnya 50 ton, yang dibutuhkan Kelas II, apa pun huruf yang dipakai di iklan.

Bagaimana memastikan kelas yang benar sebelum mendaftar?

  1. Lihat pelat nama unit. Catat jenis crane dan kapasitas angkat maksimumnya.
  2. Cocokkan dengan tabel kelas resmi. Penjelasan lengkap ada di perbedaan SIO crane Kelas I, II, dan III.
  3. Tanyakan kepada penyelenggara kelas apa yang akan tercantum pada lisensi. Minta jawabannya tertulis dalam penawaran, dengan angka Romawi dan jenis crane.
  4. Konfirmasi ke peminta. Bila istilah kelas A, B, atau C berasal dari klien, kontrak, atau lowongan kerja, minta mereka menyebut kapasitas unit atau kelas resmi yang dimaksud.
  5. Periksa syarat peserta. Kelas II dan Kelas I umumnya mensyaratkan pendidikan minimal SLTA dan pengalaman sebagai operator pada kelas di bawahnya.

Penyelenggara yang menawarkan lisensi kelas A, B, atau C tanpa dapat menjelaskan padanannya dengan Kelas I, II, III patut ditanya lebih jauh. Pastikan dokumen akhirnya adalah Lisensi K3 dari Kemnaker RI, bukan sertifikat internal lembaga.

Apa akibatnya bila salah menafsirkan kelas?

  • Lisensi tidak sesuai unit. Operator yang mengira kelas C cukup untuk semua unit kecil-menengah lalu ditugaskan pada crane 50 ton berada di luar kewenangannya.
  • Temuan audit. Auditor membandingkan kapasitas unit dengan kelas pada lisensi, bukan dengan istilah yang dipakai perusahaan.
  • Biaya ganda. Salah mendaftar kelas berarti mengulang pembinaan untuk kelas yang benar.
  • Ditolak saat mobilisasi proyek. Pemilik proyek biasanya memeriksa lisensi sebelum operator boleh masuk lokasi.

Bagaimana dengan grade internal perusahaan?

Tidak ada larangan bagi perusahaan untuk memiliki penjenjangan sendiri, misalnya operator grade A, B, dan C berdasarkan jam terbang dan hasil penilaian. Sistem seperti itu berguna untuk penugasan dan remunerasi. Yang perlu dijaga:

  • grade internal tidak menggantikan Lisensi K3;
  • operator hanya ditugaskan pada unit yang masuk dalam jenis dan kelas lisensinya;
  • matriks penugasan menuliskan keduanya berdampingan, yaitu grade internal dan kelas lisensi, agar tidak tertukar.

Bagi HRD yang menulis lowongan, lebih jelas menulis operator mobile crane Kelas II (unit 50 ton) daripada operator crane kelas B.

Program mana yang sesuai?

Setelah jenis dan kapasitas unit diketahui, pilih program menurut jenis crane: pelatihan operator overhead crane untuk crane pabrik dan gudang, atau pelatihan operator mobile crane untuk truck crane, crawler crane, dan rough terrain. Kelasnya mengikuti kapasitas unit terbesar yang akan dioperasikan.

Referensi

  • Permenaker No. 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
  • UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja